Langsung ke konten utama

Manusia Spesial Itukah Kamu?

        Kehidupan ini ialah sebuah pilihan. Apakah kita akan beriman atau kafir setelah Allah berikan tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat kita indera? Sama halnya apakah di dunia ini kita ingin memberikan warna atau terwarnai? Sangat sedikit sekali diantara manusia yang cenderung memilih jalan yang sulit. Jalan yang mengambil risiko lebih besar. Jalan yang konsekuesinya akan ada effort atau usaha yang lebih. Hingga pada akhirnya manusia justru lebih memilih terarus oleh kenikmatan dunia yang sifatnya fana.

Ketika kita disuguhkan dua pilihan yaitu menjadi manusia yang biasa saja atau istimewa. Kira kira kita akan memilih yang mana? Tentu saja pastilah semestinya kita ingin menjadi manusia yang istimewa. Tapi akan muncul pertanyaan berikutnya. Jika memang demikian. Apakah kita mau menerima konsekuensi atas pilihan kita. Tunggu dulu sobat. Ketika kita ingin menjadi manusia yang istimewa tentu saja ada konsekuensi yang tidak mudah juga. Ibaratnya ketika kita menginginkan masuk suatu perguruan tinggi favorit apakah bisa diraih dengan jalan bersantai dan berleha-leha saja? Tentu saja tidak kan sobat. Pasti suatu kemustahilan jika tiba tiba saja bisa masuk disana tanpa adanya usaha yang lebih dari kita. Pasti sebelumnya jauh jauh hari kita sudah mempersiapkan untuk lebih banyak belajar, atau bahkan mengikuti les privat dan usaha yang lainnya. Tentu saja akan sama halnya ketika kita memilih ingin menjadi manusia yang istimewa. Konsekuensinya pasti akan lebih berat. Usaha yang dilakukan harus lebih dari biasanya atau bahkan lebih dari orang lain.

Menjadi manusia yang istimewa ini tentunya tidak semua orang bisa. Pasti hanya sedikit dari kebanyakan orang. Karena tadi,  kecenderungan manusia ingin yang mudah saja. Nah, ketika kita menjadi seorang Muslim dan ingin menjadi manusia atau hamba yang istimewa. Kira-kira apakah dapat diraih hanya dengan jalan beribadah ala kadarnya? Tentu saja tidak mungkin kan sobat. Jika kita menengok sejarah dan membaca banyak kisah kisah nabi dan rosul. Kira kira apakah dari mereka hidup dengan bersantai santai? Apakah Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam hanya berdiam diri hingga tiba tiba Islam bisa sampai pada kita hingga hari ini? Jawabannya pasti sudah tahu ya. Iya betapa keras usaha beliau dalam mensyiarkan Islam. Berapa tahun beliau berjuang? Bagaimana pengorbanan beliau semasa hidupnya hanya demi Islam bisa tersyiarkan hingga seluruh alam dan menjadi rahmat bagi alam semesta? Betapa beliau memilih meninggalkan kesenangan dunia, pujian dari bangsa Arab dan memilih menjadi manusia yang istimewa.

Ketika kita di dunia memang semua hal yang berupa kesenangan fana terasa seolah olah nyaman dan menyenangkan. Sedangkan suatu jerih payah yang sebenarnya ialah kenikmatan yang hakiki terlihat seolah olah merupakan jalan yang berat lagi menyusahkan. Namun, sebenarnya kenikmatan hakiki seorang Muslim adalah kehidupan akhirat yang berupa balasan surga dari sisi-Nya dan bukan pada kehidupan dunia yang sifatnya fana.

Sehingga dapat kita indera sobat. Berapa banyak manusia yang lebih memilih terwarnai oleh kehidupan dunia dan kemudian terarus dalam kesesatan. Dan memilih untuk mengikuti hawa nafsu ketimbang menggunakan akal dan hatinya. Menjadi manusia yang istimewa dibangun oleh keyakinan yang tidak mudah dipatahkan. Caranya dengan mengikuti jalan pencarian dengan ibarat kompasnya adalah akal dan hati. Hingga kita mengetahui kehidupan kita sebenarnya di dunia ini untuk apa? Darimana diri ini berasal dan akan kemana selepas kehidupan dunia?

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 164)

Manusia istimewa itu cenderung memikirkan dan mengaitkan setiap kejadian. Golongan mereka tidaklah banyak. Ya Allah juga pernah berfirman bawasannya kebanyakan manusia tidak bersyukur selepas diberi banyak karunia

"Dan apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari Kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur." (QS. Yunus 10: Ayat 60)

Ketika kita kembali lagi pada pertanyaan diawal. Apakah kita masih mau menjadi manusia yang istimewa itu. Yang pastinya akan diberikan lebih ujiannya, yang harus berkorban lebih dari yang lainnya. Semestinya jawabannya mau. Mengapa demikian? Karena ketika kita memilih abai dan memilih jalan kebanyakan orang dengan menjadi manusia biasa. Maka konsekuensinya akan didapatkan kesenangan yang sifatnya sementara. Sedangkan balasan dari sisi Allah SWT berupa keburukan akhirat

Manusia istimewa itukah kamu? Jawabannya ada pada diri kita. Apakah kita akan memilih  terarus dalam kesesatan atau memilih jalan dengan mewarnai dan berusaha lebih dari yang lainnya. Jika memang jalan yang dipilih ini berat. Tentu saja bukan masalah besar karena pada hakikatnya kita hanya mengharap kebaikan balasan dari sisi-Nya

Ketika kita dalam melaksanakan sholat kita selalu berdoa untuk ditunjuki jalan yang lurus bukan hanya satu atau dua kali melainkan 17 kali atau lebih dalam sehari. Jalan itu ialah jalan para orang orang yang telah Allah tunjuki kenikmatan yang sebenarnya dan bukan yang Dia sesatnya

Ketika kita masih memiliki akal yang sehat sehingga dapat melahirkan buah pemikiran. Semestinya kita memahami bahwa hakikat dunia ini sementara. Ketika kita memilih menjadi manusia biasa tentu saja kita akan merugi. Manusia yang istimewa disini merupakan jalan dari golongan yang minoritas. Namun jaminan pertolongan Allah kepada-Nya pasti adanya. Kenikmatan hakiki pastilah akan didapati

"Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 86)

Menjadi manusia istimewa ibaratnya menjadi manusia yang terasing. Ibarat orang gila. Seperti Nabi Muhammad yang dijuluki demikian karena membawa kebenaran yakni Islam. Menjadi manusia istimewa memang tidak mudah. Akan ditemui jalan berbatu hingga rasanya amat getir dan pahit. Namun, perlu penanaman keyakinan pada diri bawasannya janji-Nya tidak akan pernah ingkar

Jika kita memilih pilihan yang tidak banyak disukai maka konsekuensinya kita harus menyiapkan perbekalan dengan kesabaran, rasa syukur, dan keimanan yang mantap untuk menghadirkan ghiroh dalam melintasi jalan yang dilalui

Seperti kisah nabi Nuh yang berdakwah 900.an tahun namun dengan pengikut yang bisa dihitung jari. Hingga kisah nabi Zakariya yang meninggal digergaji oleh kaumnya. Kisah nabi Ibrahim yang menentang kezaliman raja Namrud hingga dibakar namun atas seizin-Nya api itu menjadi terasa dingin.

Manusia istimewa tidak akan memilih untuk berdiam diri melihat kemungkaran di bumi. Segetir apapun jalannya pasti akan dilalui. Meski nyawa menjadi taruhannya justru mereka mengharapkannya dan tak gentar terus melaju. Sebab mereka menghadirkan keimanan tertinggi hanya kepada-Nya. Cukuplah Allah bagi mereka dan sesungguhnya Dia ialah sebaik-baiknya penolong. Cukup Allah yang menjadi tujuan. Bingkai keistimewaan mereka bukan menurut penilaaian manusia melainkan mengharap dan merasa takut hanya kepada-Nya

Belajar dari banyak kesudahan kisah. Sekarang pilihan ada ditangan. Maukah kamu menjadi manusia yang istimewa itu?

Ketika pilihan kita dijatuhkan pada menjadi manusia yang istimewa maka semestinya kita berikhtiar secara totalitas dengan mengoptimalkan apa yang sudah Allah SWT berikan kepada kita.


Referensi :

Kajian Ustadz Felix

Komentar

Posting Komentar