Pada akhirnya waktu akan terus bergulir. Entah akan meninggalkan jejak kebaikan atau keburukan. Lambat laun kita akan sadari bahwa dunia ini hanyalah sementara. Segala pernak pernik kesenangan yang ada hanyalah semu semata. Kita melihat ada yang meninggal dan ada yang lahir ke dunia. Itulah waktu amat singkat dirasa. Tatkala kemarin kita masih menjadi bocah yang lugu ternyata hari ini sudah menjadi seorang manusia dewasa yang akan dipikulkan amanah yang lebih dari sebelumnya.
Namun, hingga detik ini kira-kira bagaimana terkait target kehidupan kita? Hingga sejauh ini sudahkah kita maknai tujuan kita hidup di dunia. Tatkala manusia mulai berambisi untuk mendapatkan dunia, bukankah hati sesekali ingin juga melakukannya. Tapi, kerap kali ia diingatkan untuk tidak terarus dalam keadaan. Sebab pada hakikatnya semakin dunia dikejar maka ia akan semakin menjauh bukan? Ibarat kita mengejar bayangan. Maka, kita perlu arah agar hidup kita tak mudah terombang-ambing oleh suasana. Dan itu adalah tujuan hidup itu sendiri. Lantas sebenarnya apa yang menjadi tujuan hidup kita? Kerap kali kita amnesia atau bahkan pura-pura lupa. Astgahfirullah.
Mari kita renungi bersama, Allah telah berfirman dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Itulah tujuan hidup kita untuk beribadah kepada-Nya. Kita adalah hamba Allah yang semestinya menjadi budak-Nya. Taat akan segala perintah dan senantiasa menjauhi segala larangan-Nya. Namun, entah mengapa kerap kali lupa. Padahal dalam setiap sholat kita senantiasa membaca “sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup, dan matiku hanya untuk Allah”. Tapi, apa nyatanya diri ini kerap lalainya. Sudah berapa banyak dosa yang dilakoni? Sudah berapa kali tak taat pada perintah-Nya? Sudah berapa kali menunda untuk taat pada-Nya?
Betapa baiknya Allah, meski diri ini banyak dosa. Tetapi nikmat serta riziki-Nya masih amat begitu berlimpah untuk kita. Betapa manisnya nikmat iman ditengah banyak manusia yang memilih ingkar kepada-Nya? Betapa manisnya nikmat kesehatan ditengah banyak manusia harus terbaring lemah di rumah sakit? Betapa manisnya nikmat kesempatan mengkaji Islam ditengah banyak manusia memilih menghabiskan waktunya untuk hal sia-sia? Betapa manisnya nikmat sahabat sholih ditengah banyak manusia yang terjebak dalam lingkar persahabatan toxic? Maasyaa Allah. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tatimmush shalihat
Mari kita kembali memperdalam renung, mengingat banyaknya limpahan nikmat Allah yang tak terhitung nilainya hingga kini bahkan tak mampu digantikan dengan materi. Namun, terkadang hanya sebab satu ujian justru kita kufur nikmat. Seakan semua kebaikan dari sisi-Nya hilang hanya sebab datangnya satu ujian atau sebab doa kita belum dikabulkan.
Jika bisa dibilang semua ujian dari Allah belum ada apa-apanya. Kita hanya mencicipi sebagian kecil dari ujian pada orang-orang terdahulu yang Allah berikan petunjuk. Mari kita ingat betapa teguhnya hati Asiyah istri Fir’aun dalam mempertahankan keimanannya hingga harus berakhir pada siksa yang tidak manusiawi. Kedua tangan dan kaki Asiyah diikat. Ia ditelentangkan di atas tanah yang panas, wajahnya dihadapkan ke terik sinar matahari. Manakala para penyiksanya kembali, Malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa. Tak cukup sampai di situ, Fir’aun kembali memerintahkan para algojonya menjatuhkan sebongkah batu besar ke dada Asiyah. Ketika Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, beliau pun berdoa kepada Allah Swt: ” Robbi Ibnilii ‘Indaka Baitan Fil Jannah . ” Artinya: ”Wahai Allah Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di Surga, (QS At-Tahrim, ayat 11). Hingga Allah perlihatkan memperlihatkan sebuah gedung di surga yang terbuat dari marmer yang mengkilap. Asiyah pun gembira, hingga ruh keluar dari raganya sebelum batu besar itu dijatuhkan pada tubuhnya sehingga beliau tidak merasakan kesakitan.
Bukankah kita teringat pula kisah keluarga Yasir yang disiksa dan menjadi keluarga pertama yang syahid dijalan Islam. Siksaan tak manusiawi dilayangkan kepada mereka. Namun, mereka tetap berpegang teguh dalam Islam hingga ajal menjemput. Kemudian kisah Bilal bin Rabbah yang ditindih batu besar namun beliau tetap berujar “Ahad…Ahad…Ahad” yakni tetap memegang teguh keimananya.
Lantas bagaimana dengan kita? Apakah ujian kita sudah seberat meraka? Maka, kita semestinya perlu banyak mendalami serta menyelami kisah-kisah orang terdahulu yang bahkan tak surut diterpa ujian. Pada hakikatnya dunia ini adalah tempat ujian, tempat capek karena istirahat itu hanya di surga. Tetapi, semua bergantung pilihan kita akankah kita taat kepada syariat yang sudah Allah tetapkan atau mengingkarinya? Sebab konsekuensi dari keimanan kita adalah taat terhadap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itu sudah baku tidak bisa ditawar lagi. Karena pada dasarnya kita hanyalah hamba yang lemah dan terbatas. Tanpa pertolongan dan rahmat-Nya tidak mungkin kita masih bisa bertahan hingga detik ini. Saatnya kembali mendekat dan memperbaiki hubungan kita dengan-Nya. Tatkala ujian semakin terasa berat, barangkali Allah ingin kita mencicipi ujian para orang terdahulu agar semakin luas sabarnya, semakin ikhlas niatnya, semakin kuat pundaknya, semakin besar rasa syukurnya. Sebab disetiap ujian yang Allah berikan pasti akan selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Jika bukan diwaktu bersamaan dengan ujian barangkali suatu hari nanti.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” QS. Al Baqarah ayat 214
Jika rencana kita terkadang tidak selaras dengan ketetapan-Nya, jangan bersedih dan berputus asa. Sebab Allah pasti akan ganti dengan ketetapan terbaik-Nya. Atau jika tidak Allah ingin menyimpan rencana kita untuk dibalaskan di akhirat kelak.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”
Inilah kehidupan dunia yang sementara. Kehidupan dunia yang amat banyak kesenangan yang menipu, pun akan banyak sajian ujian yang akan datang menghampiri setiap kita. Tapi semua itu adalah skenario terbaik dari Allah SWT. Setiap proses kita menentukan keridhoan-Nya. Bukankah yang semestinya kita kejar memang hanya ridho Allah semata? Bukan ridhonya manusia?
Mari kita kembali renungi, semoga dengan nikmat yang Allah berikan hingga hari ini menjadikan kita semakin taat kepada-Nya. Dan yang perlu kita selalu ingat bahwa waktu kita di dunia hanya sementara, maka semoga kita tidak memilih menunda untuk taat pada-Nya. Tentu saja setiap proses dan waktu yang Allah berikan ini akan dimintai pertanggungjawaban. Mari kita kembali menuju-Nya serta memperbaiki segala niat yang barangkali tidak lurus karena-Nya. Agar semua lelah yang dijalani di dunia ini tak berakhir sia-sia
Tak ada waktu tunda untuk memperbaiki, sebab kematian tak memberi aba-aba akan hadirnya. Maka, mari kita optimalkan waktu yang masih Allah beri untuk memantaskan diri menjadi hamba-Nya yang bertaqwa
Semoga bisa menjadi renungan kita bersama ya😊
Wallahu a’lam
Referensi:
https://tafsirweb.com/841-surat-al-baqarah-ayat-214.html
https://www.republika.co.id/berita/q82g4y458/bilal-bin-rabah-teguh-dalam-islam
https://www.republika.co.id/berita/qh3bg3430/pedihnya-penyiksaan-sumayyah-wanita-pertama-yang-syahid
https://umma.id/post/kisah-asiyah-wanita-yang-diperlihatkan-surga-saat-disiksa-firaun-362132?lang=id
Komentar
Posting Komentar