Pernah tidak kita bertanya-tanya pada diri kita, mengapa ya aku ada di dunia? Mengapa ya ada kematian dan kehidupan? Dan pertanyaan-pertanyaan yang diawali dari kata “Mengapa atau WHY” Ternyata pertanyaan WHY inilah yang menjadi alasan kita untuk melakukan sesuatu. Dan alasan itulah sebagai tujuan kita. Ibaratnya tatkala kita hendak melakukan perjalanan kita akan merencanakan akan kemana tujuan kita, mengapa kita melakukan perjalanan itu. Jika sudah ditentukan maka kita tidak akan mudah tersesat dan tentunya akan lebih yakin dalam melakukan perjalanan. That’s a power of “WHY”.
Dan ternyata kita sebagai seorang Muslim harus memiliki strong WHY ini. Tujuannya agar apa? Agar hidup kita menjadi lebih terarah dan tidak mudah digoyahkan oleh sesuatu hal. Misalnya, mengapa sih kita harus sholat? Mengapa kita harus menutup aurat? Jika kita sudah mendapatkan jawaban akan pertanyaan pertanyaan itu, hati kita akan jauh lebih tenang dan lapang dalam menerima serta menjalaninya. Tentu saja, kita harus membangun pondasi berupa aqidah yang lurus. Aqidah disini ibarat sebuah akar pohon, yang mana bila akarnya tidak kuat maka akan mudah tumbang pohon itu. Dan tentunya pohon itu tidak akan mampu memberikan kebermanfaatan berupa buah atau suplai oksigen jika akarnya saja koyak. Maka, inilah pentingnya kita memulai dari pertanyaan “WHY”
Alasan yang diawali dari pertanyaan “WHY” inilah yang nanti akan membimbing dan menguatkan kita. Maka cukuplah Allah menjadi alasan kita dalam melakukan sesuatu. Kita yang hakikatnya amat lemah dan terbatas tentu saja memerlukan sandaran yang kokoh yakni Pencipta kita -Allah Ta’ala. Sehingga, ketika kita hendak melakukan suatu aktivitas cukup Allah yang menjadi alasan kita. Terlebih jika ada terbersit dalam benak kita untuk melakukan kemaksiatan, cukup Allah yang menjadi alasan kita untuk tidak melakukannya.
Jika kita melakukan sesuatu hanya demi mendapatkan pujian manusia atau manfaat semata. Pastilah, tatkala kita tidak mendapatkannya maka kita akan berhenti untuk melakukannya. Maka sedari awal memang kita harus selalu meluruskan niat, our reason to do anything because Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam pernah memberikan suatu nasehat kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau bersabda, Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (H.R Tirmidzi)
Nasehat tersebut berupa prinsip-prinsip aqidah yang coba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam ingin tanamkan kepada Ibnu Abbas Radiyallahu anhuma yang ketika itu masih kecil. Disini kita bisa mengambil wasiat-wasiat yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam tinggalkan yaitu kita harus senantiasa menjaga Allah -dengan menjaga agama dan ketentuan-ketentuan-Nya. Senantiasa melakukan ketaatan kepada-Nya dengan melaksanakan yang ma’ruf dan mencegah berbuat yang munkar. Sehingga Allah akan menjaga kita.
Pernah juga dalam sebuah kisah seorang perempuan dan ibunya yang bekerja sebagai pemerah susu kambing di masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab untuk memenuhi kebutuhannya. Suatu ketika saat musim panas, ibunya mengeluhkan pasokan susu kambing yang menurun. Kambing-kambingnya kurang makan karena rumput kering pada musim panas. Hingga ibunya terbersit cara licik agar susu kambingnya bertambah banyak yaitu dengan mencampur susu kambing itu dengan air sehingga penghasilannya akan bertambah. Namun sungguh luar biasa, dengan tegas anak perempuannya menolak saran licik ibunya itu. Terdapat sebuah percakapan antara seorang anak dengan ibunya.
“Tidak Umi. Khalifah Umar melarang kita berdagang secara tidak jujur,” kata anak perempuan itu menolak saran licik ibunya.
“Ah, biar saja. Khalifah Umar toh tidak tahu kita tidak jujur,” ujar ibunya bodoh amat.
Anak perempuannya ini kemudian menjawab dengan jawaban yang menakjubkan. “Tetapi Allah Maha Tahu. Kita tidak boleh takut kepada Khalifah Umar, tetapi hendaknya kita takut kepada Allah yang mengetahui kecurangan kita.”
Percakapan itu didengar oleh Khalifah Umar bin Khattab yang kala itu tengah melakukan blusukan. Beliau akhirnya kembali pulang dan memanggil putranya Ashim untuk menikahi perempuan tadi. Ashimpun melamar perempuan itu dan dari pernikahan itu lahirlah seoarang anak perempuan yang kemudian akan menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Kemudian, dari pasangan tersebut lahirlah seoarang anak laki laki bernama Umar bin Abdul Aziz yang juga menjadi seorang khalifah dengan prestasi yang gemilang dan sangat dicintai oleh rakyatnya.
Maasyaa Allaah bukan? Bagaimana alasan itu menjadi cerminan kelurusan aqidah kita. Dan satu-satunya alasan paling kuat tentu saja Allah Ta’ala -Pencipta kita. Maka tatkala kita ingin melakukan suatu amalan kebaikan sandarkan semua kepada Allah saja. Tak perlu kita mengharap akan pujian manusia, kemanfaatan yang akan didapat, jabatan, atau popularitas. Cukup ridho Allah yang menjadi alasan kita untuk berbuat kebaikan. Biarkan Allah yang memberikan hak kita.
Begitupun tatkala kita terbersit untuk melakukan suatu kemaksiatan. Kita ingat kembali bahwa Allah Maha Mengetahui. Allah senantiasa mengawasi. Maka, kita akan mengurungkan niatan buruk yang terbesit dalam benak kita. Jika alasan kita meninggalkan kemaksiatan hanya demi mendapatkan pujian semata atau karena takut kepada manusia. Maka, kita akan mudah terpesorok dalam kemaksiatan itu. Sebab alasan itu tentu saja tidak kuat. Alasan itu akan mudah terpatahkan. Terlebih jika alasan itu tidak ada lagi karena sifat manusia yang bolak balik maka kita akan dengan mudah terperosok pada jurang kemaksiatan. Na’udzu billahi min dzalik.
Saudaraku, tidak ada alasan paling kuat di dunia ini kecuali Allah. Maka, semoga hati kita akan senantiasa tergerak untuk melakukan suatu amalan kebaikan dan menjauhi segala kemaksiatan karena Allah semata. Ibaratnya alasan ini adalah pondasi rumah, jika pondasinya saja tidak kokoh maka rumah itupun akan mudah roboh bukan?
So, mari kita kembali menata niat dan langkah. Sudah sejauh mana diri kita menjaga Allah dalam setiap hari kita? Sudahkah kita menemukan alasan terkuat itu dalam hidup kita? Jika belum, kita belum terlambat. Masih ada kesempatan sebelum nyawa kita berada di kerongkongan untuk memulainya. Memulai untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya alasan kita berjuang dan bertahan dalam ketaatan.
Wallahu a’lam bishowab
Referensi :
http://sditfatahillahskh.sch.id/2019/11/05/nasehat-rasulullah-kepada-ibnu-abbas/
https://muslim.okezone.com/read/2019/10/13/614/2116417/kejujuran-gadis-pemerah-susu?page=2
Komentar
Posting Komentar